Tentang VOC dan arsipnya itu sendiri
Organisasi VOC
Prof. Dr. F.S. Gaastra
Di antara semua perserikatan dagang yang ada di abad ke-17 dan ke-18,
Perserikatan Dagang Hindia Timur (VOC), yang didirikan pada tahun 1602,
pasti merupakan yang paling sukses. Tidak lama sesudah kelahirannya,
badan ini berhasil menyingkirkan orang Portugis, yang satu abad
sebelumnya telah membangun imperium perdagangan di Asia, dan hampir
menyisihkan saingan di perdagangan Asia-Eropa itu. Saingan utama VOC,
yaitu East India Company (EIC), yang telah didirikan di London pada
tahun 1600, mulamula tidak cukup memiliki kemampuan keuangan dan
kehandalan keorganisasian, serta tidak cukup mendapat dukungan dari
pihak pemerintah Inggris, sehingga tidak dapat menandingi Kompeni
Belanda itu. Baru pada akhir abad ke- 17 EIC berkembang sebagai lawan
yang benarbenar patut disegani, yang kemudian, di sepanjang abad ke-18,
mengungguli saingannya di beberapa bidang. Bagaimanapun, sampai akhir
sejarahnya pada tahun 1800 VOC tetap merupakan yang terbesar di antara
perusahaan-perusahaan dagang yang beroperasi di Asia.1 Kompeni Belanda
itu bertumbuh pesat berkat beberapa faktor. Pertama sekali,
berlimpahnya modal di Republik memungkinkan VOC maju jauh dibandingkan
dengan lawannya. Dengan demikian VOC mampu membiayai operasi-operasi
militer yang perlu untuk meraih kedudukan sebagai pemegang monopoli
sedunia dalam hal perdagangan rempah-rempah. Penaklukan Kepulauan Banda
pada tahun 1622 membuat VOC memperoleh monopoli pala dan kembang pala.
Sebaliknya, upaya memonopoli cengkih membutuhkan jangka waktu yang
lebih lama. Dengan jalan menghancurkan pohon-pohon cengkih di sejumlah
pulau di Kepulauan Maluku, VOC berhasil memusatkan pembudidayaan rempah
ini di Ambon. Makassar merupakan pelabuhan terakhir tempat para saudagar
dari Eropa dan Asia masih sempat memasok rempahrempah bukan dengan
perantaraan VOC – yang oleh VOC dipandang sebagai ‘penyelundupan’ –
tetapi penaklukan kota itu pada tahun 1667 berarti jalur itu pun
tertutup. Terakhir, monopoli dalam perdagangan kayu manis diperoleh
dengan cara mengusir orang Portugis dari Sri Lanka. Hal ini terjadi
dalam dua tahap: antara tahun 1627 dan 1642, dan dalam kurun waktu
1654-1658.
Prof. Dr. F.S. Gaastra
Di antara semua perserikatan dagang yang ada di abad ke-17 dan ke-18,
Perserikatan Dagang Hindia Timur (VOC), yang didirikan pada tahun 1602,
pasti merupakan yang paling sukses. Tidak lama sesudah kelahirannya,
badan ini berhasil menyingkirkan orang Portugis, yang satu abad
sebelumnya telah membangun imperium perdagangan di Asia, dan hampir
menyisihkan saingan di perdagangan Asia-Eropa itu. Saingan utama VOC,
yaitu East India Company (EIC), yang telah didirikan di London pada
tahun 1600, mulamula tidak cukup memiliki kemampuan keuangan dan
kehandalan keorganisasian, serta tidak cukup mendapat dukungan dari
pihak pemerintah Inggris, sehingga tidak dapat menandingi Kompeni
Belanda itu. Baru pada akhir abad ke- 17 EIC berkembang sebagai lawan
yang benarbenar patut disegani, yang kemudian, di sepanjang abad ke-18,
mengungguli saingannya di beberapa bidang. Bagaimanapun, sampai akhir
sejarahnya pada tahun 1800 VOC tetap merupakan yang terbesar di antara
perusahaan-perusahaan dagang yang beroperasi di Asia.1 Kompeni Belanda
itu bertumbuh pesat berkat beberapa faktor. Pertama sekali,
berlimpahnya modal di Republik memungkinkan VOC maju jauh dibandingkan
dengan lawannya. Dengan demikian VOC mampu membiayai operasi-operasi
militer yang perlu untuk meraih kedudukan sebagai pemegang monopoli
sedunia dalam hal perdagangan rempah-rempah. Penaklukan Kepulauan Banda
pada tahun 1622 membuat VOC memperoleh monopoli pala dan kembang pala.
Sebaliknya, upaya memonopoli cengkih membutuhkan jangka waktu yang
lebih lama. Dengan jalan menghancurkan pohon-pohon cengkih di sejumlah
pulau di Kepulauan Maluku, VOC berhasil memusatkan pembudidayaan rempah
ini di Ambon. Makassar merupakan pelabuhan terakhir tempat para saudagar
dari Eropa dan Asia masih sempat memasok rempahrempah bukan dengan
perantaraan VOC – yang oleh VOC dipandang sebagai ‘penyelundupan’ –
tetapi penaklukan kota itu pada tahun 1667 berarti jalur itu pun
tertutup. Terakhir, monopoli dalam perdagangan kayu manis diperoleh
dengan cara mengusir orang Portugis dari Sri Lanka. Hal ini terjadi
dalam dua tahap: antara tahun 1627 dan 1642, dan dalam kurun waktu
1654-1658.
Sejarah Arsip-arsip
G.L. Balk, F. van Dijk, D.J. Kortlang (Arsip Nasional Belanda)

Tentang hal ihwal arsip pada zaman Hoge Regering (Peme rintah Agung) tidak terlalu banyak diketahui. Pada waktu itu arsip disimpan di Benteng (Kasteel) Batavia, yang merupakan tempat berkedudukannya Hoge Regering dan untuk waktu yang cukup lama berfungsi juga sebagai kediaman resmi gubernur jenderal. Karena situasi perang yang berlaku pada tahun 1620-an, dokumendokumen dari zaman sebelum tahun 1620 hampir tak ada satu pun yang tersimpan.1 Pada tanggal 29 Juli 1641 Hoge Regering mengangkat komisi di bawah pimpinan J. Maetsuycker, yang pada waktu itu menjabat sekretaris Raad van Justitie (Dewan Peradilan), dengan tugas memeriksa kertaskertas tua yang tersimpan di kantor gubernur jenderal, ‘di dalam peti Portugis yang terkunci’. Perawatan arsip-arsip ini menjadi tanggung jawab juru tulis kepala Generale Secretarie (Sekretariat Umum). Setelah ditemukan ‘kekurangankekurangan dan ketidaksempurnaan’, pada tahun 1735 perawatannya diserahkan kepada dua orang ‘archivaris’ (juru arsip), yaitu: Gerardus Kluysenaar, seorang saudagar tenaga VOC yang saat itu tidak mempunyai tempat tugas, dan seorang asisten bernama Carel Anthony le Vasseur de Rocques.2 Mereka mendapat tugas untuk membandingkan daftar-daftar arsip yang telah tersusun dengan kenyataan di tempat. Pada tahun 1739 lemari-lemari arsip dan ruangan tempat lemari-lemari tersebut berdiri telah terisi penuh. Karenanya orang membersihkan sebuah gudang bekas untuk dijadikan ruang penyimpanan arsip-arsip tersebut.3 Pada tahun 1768 ruangan ini pun terisi penuh. Maka diputuskan untuk memusnahkan semua surat rangkap (yakni versi asli surat-surat yang telah dikirim ke kantorkantor cabang, catatan-catatan harian yang asli, lampiran-lampiran, dan lain-lain).4 Pada tahun 1770 dibuatlah inventaris semua dokumen arsip, dan disusun pula daftar dokumendokumen yang dapat saja dimusnahkan karena ‘rusak disebabkan oleh rayap dan serangga lainnya’.5 Selama abad ke-18 banyaknya pekerjaan di kantor Sekretariat Umum menanjak pesat. Maka juru tulis kepala menulis surat permohonan kepada Hoge Regering agar jajaran juru tulis pada Sekretariat Umum, yang pada waktu itu berjumlah 34 orang, ditingkatkan.
Pengurus Pusat VOC dan lembaga-lembaga pemerintahan kota Batavia (1619-1811) – sebuah pendahuluan
Dr Hendrik E. Niemeijer

Pada tanggal 30 Mei 1619 VOC merebut pelabuhan Jakatra di pantai utara Pulau Jawa. Dengan demikian Kompeni memperoleh sebuah pelabuhan permanen dan mendapat galangan kapal, gudang-gudang pusat untuk kegiatan perdagangan, serta pusat pemerintahan dan administrasi. Mulai saat itu di Jakatra, yang kemudian dinamakan Batavia, berkedudukan pemerintah pusat VOC di Asia, yakni gubernur jenderal dan anggota Raad van Indië (Dewan Hindia), yang dalam dokumen-dokumen biasanya disebut Hoge Regering (Pemerintah Agung/Pusat). Lembaga-lembaga pemerintahan pusat dan rumah-rumah para pegawai Kompeni, dari yang berpangkat paling tinggi sampai yang paling rendah, semuanya terpusat dalam satu kompleks yang dijaga ketat, yaitu Kasteel (Benteng) Batavia. Benteng itu dibongkar pada masa Gubernur Jenderal H.W. Daendels (1808-1811). Pada tanggal 17 September 1811 pengganti Daendels, Gubernur Jenderal J.W. Janssens, menandatangani kapitulasi kepada tentara Inggris. Maka tahun ini merupakan titik akhir kurun waktu yang dibahas dalam Pendahuluan ini. 1 Inventaris menyeluruh ini terutama mencakup arsip-arsip yang pada zaman VOC disimpan dalam Kasteel. Pada masa jabatan Daendels sejumlah besar dokumen dari Kasteel dibuang, tetapi banyak juga yang masih tersimpan hingga sekarang. Dalam bagian pendahuluan ini kami menyebutkan lembaga-lembaga pemerintahan dan dewan-dewan kota serta metode kerjanya. 2 Dalam pasal II kami akan membahas lembaga-lembaga sentral di bidang pemerintahan dan peradilan dalam Kasteel Batavia, yaitu:
1. Hoge Regering (Pemerintah Agung, 1609-1811);
2. Hoge Commissie (Komisi Tinggi, 1791-1799);
3. Algemene Rekenkamer (Badan Umum Pengawas Keuangan, 1808-1811);
4. Raad van Justitie (Dewan Peradilan, 1620-1809).
Selanjutnya akan dibahas lembaga-lembaga pemerintahan kota. Batavia mempunyai beberapa lembaga yang fungsinya sama dengan lembaga serupa yang terdapat di kota-kota besar daerah Holland. Dalam arsip, lembaga-lembaga ini biasanya dinamakan colleges (dewan).
G.L. Balk, F. van Dijk, D.J. Kortlang (Arsip Nasional Belanda)

Tentang hal ihwal arsip pada zaman Hoge Regering (Peme rintah Agung) tidak terlalu banyak diketahui. Pada waktu itu arsip disimpan di Benteng (Kasteel) Batavia, yang merupakan tempat berkedudukannya Hoge Regering dan untuk waktu yang cukup lama berfungsi juga sebagai kediaman resmi gubernur jenderal. Karena situasi perang yang berlaku pada tahun 1620-an, dokumendokumen dari zaman sebelum tahun 1620 hampir tak ada satu pun yang tersimpan.1 Pada tanggal 29 Juli 1641 Hoge Regering mengangkat komisi di bawah pimpinan J. Maetsuycker, yang pada waktu itu menjabat sekretaris Raad van Justitie (Dewan Peradilan), dengan tugas memeriksa kertaskertas tua yang tersimpan di kantor gubernur jenderal, ‘di dalam peti Portugis yang terkunci’. Perawatan arsip-arsip ini menjadi tanggung jawab juru tulis kepala Generale Secretarie (Sekretariat Umum). Setelah ditemukan ‘kekurangankekurangan dan ketidaksempurnaan’, pada tahun 1735 perawatannya diserahkan kepada dua orang ‘archivaris’ (juru arsip), yaitu: Gerardus Kluysenaar, seorang saudagar tenaga VOC yang saat itu tidak mempunyai tempat tugas, dan seorang asisten bernama Carel Anthony le Vasseur de Rocques.2 Mereka mendapat tugas untuk membandingkan daftar-daftar arsip yang telah tersusun dengan kenyataan di tempat. Pada tahun 1739 lemari-lemari arsip dan ruangan tempat lemari-lemari tersebut berdiri telah terisi penuh. Karenanya orang membersihkan sebuah gudang bekas untuk dijadikan ruang penyimpanan arsip-arsip tersebut.3 Pada tahun 1768 ruangan ini pun terisi penuh. Maka diputuskan untuk memusnahkan semua surat rangkap (yakni versi asli surat-surat yang telah dikirim ke kantorkantor cabang, catatan-catatan harian yang asli, lampiran-lampiran, dan lain-lain).4 Pada tahun 1770 dibuatlah inventaris semua dokumen arsip, dan disusun pula daftar dokumendokumen yang dapat saja dimusnahkan karena ‘rusak disebabkan oleh rayap dan serangga lainnya’.5 Selama abad ke-18 banyaknya pekerjaan di kantor Sekretariat Umum menanjak pesat. Maka juru tulis kepala menulis surat permohonan kepada Hoge Regering agar jajaran juru tulis pada Sekretariat Umum, yang pada waktu itu berjumlah 34 orang, ditingkatkan.
Pengurus Pusat VOC dan lembaga-lembaga pemerintahan kota Batavia (1619-1811) – sebuah pendahuluan
Dr Hendrik E. Niemeijer

Pada tanggal 30 Mei 1619 VOC merebut pelabuhan Jakatra di pantai utara Pulau Jawa. Dengan demikian Kompeni memperoleh sebuah pelabuhan permanen dan mendapat galangan kapal, gudang-gudang pusat untuk kegiatan perdagangan, serta pusat pemerintahan dan administrasi. Mulai saat itu di Jakatra, yang kemudian dinamakan Batavia, berkedudukan pemerintah pusat VOC di Asia, yakni gubernur jenderal dan anggota Raad van Indië (Dewan Hindia), yang dalam dokumen-dokumen biasanya disebut Hoge Regering (Pemerintah Agung/Pusat). Lembaga-lembaga pemerintahan pusat dan rumah-rumah para pegawai Kompeni, dari yang berpangkat paling tinggi sampai yang paling rendah, semuanya terpusat dalam satu kompleks yang dijaga ketat, yaitu Kasteel (Benteng) Batavia. Benteng itu dibongkar pada masa Gubernur Jenderal H.W. Daendels (1808-1811). Pada tanggal 17 September 1811 pengganti Daendels, Gubernur Jenderal J.W. Janssens, menandatangani kapitulasi kepada tentara Inggris. Maka tahun ini merupakan titik akhir kurun waktu yang dibahas dalam Pendahuluan ini. 1 Inventaris menyeluruh ini terutama mencakup arsip-arsip yang pada zaman VOC disimpan dalam Kasteel. Pada masa jabatan Daendels sejumlah besar dokumen dari Kasteel dibuang, tetapi banyak juga yang masih tersimpan hingga sekarang. Dalam bagian pendahuluan ini kami menyebutkan lembaga-lembaga pemerintahan dan dewan-dewan kota serta metode kerjanya. 2 Dalam pasal II kami akan membahas lembaga-lembaga sentral di bidang pemerintahan dan peradilan dalam Kasteel Batavia, yaitu:
1. Hoge Regering (Pemerintah Agung, 1609-1811);
2. Hoge Commissie (Komisi Tinggi, 1791-1799);
3. Algemene Rekenkamer (Badan Umum Pengawas Keuangan, 1808-1811);
4. Raad van Justitie (Dewan Peradilan, 1620-1809).
Selanjutnya akan dibahas lembaga-lembaga pemerintahan kota. Batavia mempunyai beberapa lembaga yang fungsinya sama dengan lembaga serupa yang terdapat di kota-kota besar daerah Holland. Dalam arsip, lembaga-lembaga ini biasanya dinamakan colleges (dewan).



